Senin, 10 Oktober 2011

Puisi dan Sajak WS. Rendra

Kumpulan sajak dan Puisi WS. Rendra | Sajak Puisi Cinta Romantis


 Sajak dan Puisi WS Rendra Tentang kehidupan perjuangan cinta dll

Sajak w.s. Rendra bagian 1
===========================================================

Pamplet Cinta

Oleh : W.S. Rendra

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.

Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.

Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.

Aku merindukan wajahmu,

dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.

Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.

Kata-kata telah dilawan dengan senjata.

Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.

Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan

Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.

Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan

Suatu malam aku mandi di lautan.

Sepi menjdai kaca.

Bunga-bunga yang ajaib bermekaran di langit.

Aku inginkan kamu, tapi kamu tidak ada.

Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair

bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan ?

Udara penuh rasa curiga.

Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.

Suara lautan adalah suara kesepian.

Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna

Makna menjadi harapan.

Sebenarnya apakah harapan ?

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.

Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.

Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.

Aku tertawa, Ma !

Angin menyapu rambutku.

Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.

Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.

Perutku sobek di jalan raya yang lengang…….

Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.

Aku menulis sajak di bordes kereta api.

Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,

aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,

nongol dari perut matahari bunting,

jam duabelas seperempat siang.

Aku terkesima.

Aku disergap kejadian tak terduga.

Rahmat turun bagai hujan

membuatku segar,

tapi juga menggigil bertanya-tanya.

Aku jadi bego, Ma !

Yaaah , Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.

Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,

dan sedih karena kita sering berpisah.

Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih ?

Bahagia karena napas mengalir dan jantung berdetak.

Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.

Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,

memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Pejambon, Jakarta, 28 April 1978

Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak w.s. Rendra bagian 2

===========================================================


Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya

Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan encokmu

kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang

Dan juga masa depan kita

yang hampir rampung

dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri

dan terasing dengan nasib kita

Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.

Suka duka kita bukanlah istimewa

kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

bekerja membalik tanah

memasuki rahasia langit dan samodra,

serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,

kerna tugas adalah tugas.

Bukannya demi sorga atau neraka.

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu

meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang

ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.

Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.

Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit

melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.

Dan kenangkanlah pula

bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa

menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.

Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.

Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,

nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna

Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.

Kita menjadi goyah dan bongkok

kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita

tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kaukenangkan encokmu

kenangkanlah pula

bahwa kita ditantang seratus dewa.

Sajak w.s. Rendra bagian 3

===========================================================


Orang-Orang Miskin

Oleh : W.S. Rendra

Orang-orang miskin di jalan,

yang tinggal di dalam selokan,

yang kalah di dalam pergulatan,

yang diledek oleh impian,

janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.

Rambut mereka melekat di bulan purnama.

Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,

mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.

Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.

Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,

di jalan kamu akan diburu bayangan.

Tidurmu akan penuh igauan,

dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya

karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.

Jangan kamu bilang dirimu kaya

bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.

Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.

Dan perlu diusulkan

agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.

Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan

masuk ke dalam tidur malammu.

Perempuan-perempuan bunga raya

menyuapi putra-putramu.

Tangan-tangan kotor dari jalanan

meraba-raba kaca jendelamu.

Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.

Mereka akan menjadi pertanyaan

yang mencegat ideologimu.

Gigi mereka yang kuning

akan meringis di muka agamamu.

Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap

akan hinggap di gorden presidenan

dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,

bagai udara panas yang selalu ada,

bagai gerimis yang selalu membayang.

Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau

tertuju ke dada kita,

atau ke dada mereka sendiri.

O, kenangkanlah :

orang-orang miskin

juga berasal dari kemah Ibrahim

Yogya, 4 Pebruari 1978

Potret Pembangunan dalam Puis

Lihat juga Artikel Puisi Cinta untuk merayu wanita dan juga Ucapan selamat malam dan Ucapan selamat ulang tahun

Masih ada beberapa sajak dari ws redra yang bisa kamu baca di postingan saya selanjutnya, ditunggu yah karena masih dalam proses pengumpulan dari berbagai arsip sajak om ws rendra  :-)

3 comments

so romantic .. thanks for info

ranggatirta prawira delete 7 Januari 2012 11.39

saya sangat senang dengan mmbaca puisi ini...........

DYAH AYU SUCI ILHAMI delete 21 Maret 2012 13.03

Puisinya bagus, tapi terlalu panjang,...